Tanda Hubungan Tidak Sehat tapi Sulit Putus, Lalu Maunya Gimana?

Table of Contents

Tanda Hubungan Tidak Sehat tapi Sulit Putus, Lalu Maunya Gimana?






Sebuah hubungan yang sudah terlalu berantakan dan sulit dipertahankan serta menunjukkan tanda tanda sebagai berikut:

pengekangan, kekerasan dan kasar, suka marah marah, tidak ada kebahagiaan, hubungan putus nyambung, kehilangan jati diri, serta ketergantungan emosional terhadap pasangan sehingga sulit untuk putus dan mengakhiri hubungan toxic.

Jika bisa, lebih baik diakhiri daripada menyakiti satu sama lain. Mungkin terkesan tidak enak jika diresapi, tapi ini lebih masuk akal daripada kepala pusing memikirkan pasangan toxic yang membahayakan jiwa.



Tidak semua hubungan itu berakhir seperti Romeo dan Juliet, ini bukan kisah film untuk menyenangkan penonton. Ini dunia nyata dan kita adalah pemain yang harus memerankan kehidupan kita sendiri, dan harus selamat dari marabahaya dan kekecewaan. Kamu harus bahagia, jangan menggantungkan kebahagiaan kepada pasangan yang tidak bisa memberi kebahagiaan.



Hubungan tidak sehat berakar dari banyak masalah, dan tentu akan sangat beraneka ragam masalah yang ditemui. Tetapi hubungan yang tidak sehat tidak boleh diteruskan lebih lama. Jika pasangan bisa berubah, mungkin bisa dipertimbangkan untuk berjalan dan lanjut hingga hubungan yang lebih serius, tetapi jika tidak bisa diperbaiki maka lebih baik lepaskan dirimu dari belenggunya.



Kesulitan keluar dari hubungan toxic atau yang sudah tidak sehat memang bukan perkara mudah. Sebab hati manusia jika sudah sayang dan sudah cinta, otomatis otak mereka akan kecanduan dopamin dan akan selalu menagih jika tidak mendapatkannya. Dan celakanya dopamin tersebut dipicu oleh keberadaan orang yang menjadi dalang hubungan tidak sehat ini.



Kalau sudah menjadi sumber dopamin bagi otak kamu, tentu melepas atau putus dari pasangan toxic tidak semudah itu. Menurut pengalaman saya yang tidak seberapa ini, seseorang yang telah jatuh cinta relatif lama cenderung terbiasa dengan kehadiran pasangan meskipun sangat menyiksa. Seolah-olah otak menerima kehadiran orang tersebut, padahal hati ingin berontak dan lepas dari hubungan yang tidak sehat ini.



Lalu Bagaimana Sih Hubungan yang Tidak Sehat Itu?

Yuk kita bahas pelan-pelan.

Adanya Pengekangan dalam Hubungan

Pernah tidak merasa hubungan asmara kamu seperti dalam penjara? Di mana semua kebebasan kamu dirampas hanya karena ego pasangan kamu? Nah itu dia namanya pengekangan, di mana semua gerak-gerik kamu dibatasi dan dikendalikan oleh pasangan kamu.

Mau ke pasar wajib izin, mau ke rumah teman wajib izin, mau menyimpan kontak teman harus ngomong dulu dengan pasangan kamu. Bahkan banyak kasus di mana semua hal dalam kehidupannya dirampas oleh pasangan atas nama cinta dan kesetiaan.



Sebenarnya tidak gitu juga sih, cinta sih cinta tapi jangan norak lah. Kita sebagai manusia juga punya kehidupan pribadi dan semua orang juga punya kebebasan yang wajib dihormati selama itu benar. Dan si pasangan ini dengan tidak punya rasa bersalah seenaknya sendiri membuat aturan yang sangat memberatkan kehidupan dan kebebasan kamu begitu saja. Waduh, tidak bisa dibiarkan kalau seperti ini.

Baca juga:

Cara Mengatasi Overthinking Karena Pasangan Tanpa Menyiksa Diri Sendiri


Suami Jadi Dingin Setelah Menikah, Apakah Masih Cinta?

Harus diomongin pelan-pelan sama pasangan kalau semua itu tidak benar, pasangan itu harus percaya dengan pasangannya juga. Jika tidak bisa saling mempercayai, gimana hubungan bisa berjalan dengan sehat.

Suka Marah-Marah Tidak Jelas



Waduh ini yang tidak sedap, sudah banyak mengatur hidup orang eh malah suka ngomel-ngomel dan marah tidak jelas. Ada yang aneh dikit saja, sudah kayak perang dunia ke-3. Apalagi jika pasangannya sama-sama keras kepala, behhh sudah remuk tuh seisi dunia.



Kalau ada yang salah atau ada yang mengganjal di hati, cukup ditegur dengan pelan dan baik-baik. Tidak usah marah-marah, ini bukan tentang sandiwara Maklampir yang harus diselesaikan dengan emosi dan kekerasan. Kita sebagai manusia yang beradab sudah sepantasnya jika ada masalah diomongin dan dimusyawarahkan. Kita diskusi, cari jalan tengah, atau cari penyelesaian secara sehat. Untuk apa juga harus marah, cuma menghabiskan tenaga dan waktu tanpa penyelesaian.

Suka Main Tangan atau Kekerasan



Lah kalau suka main tangan mending laporin ke polisi, ini sudah termasuk pelanggaran dan aktivitas kriminal. Jangan dibiarkan, harus diberi efek jera. Kita itu butuh kasih sayang dalam berhubungan, bukan malah dijadikan samsak tinju. Untuk apa juga kita harus mempertahankan pasangan yang suka main tangan, tidak akan bahagia kehidupan kita jika harus hidup dengan pasangan seperti itu.



Yang ada cuma rasa takut serta rasa tidak aman yang menyelimuti kehidupan kita. Cobalah beranikan diri untuk melawan dan jangan diam saja jika pasanganmu sudah main kasar seperti itu. Minta pertolongan orang lain dan lapor ke penegak hukum agar diproses secara hukum.

Tidak Ada Kebahagiaan dalam Menjalani Hubungan



Namanya hubungan tidak sehat, akan sangat sulit menemukan kebahagiaan di dalamnya. Hari-harimu akan disibukkan dengan pertengkaran dan rasa amarah. Hubungan terasa penuh dengan kebencian namun terkadang juga saling membutuhkan. Susah juga ya menjalani hubungan kayak gini.



Tiap hari orang yang menjalani hubungan tidak sehat sering melamun dan agak sensitif jika membahas tentang hubungan asmara. Kadang juga diam saja, kalau ditanya pun jawabannya sekenanya saja. Soalnya teman aku yang menjalani hubungan yang kurang harmonis menunjukkan ciri-ciri seperti itu.

Kebanyakan Sedih daripada Bahagia



Kalau hubungan dengan pasangan kamu intensitas bahagianya lebih sedikit daripada sedihnya, kemungkinan kamu sedang di fase menjalani kehidupan percintaan yang kurang sehat. Ya walaupun kadang hubungan kurang sehat itu tidak selalu karena jumlah senangnya lebih sedikit dibanding jumlah sedihnya.



Karena bisa saja hubungan dengan pasangan kita diserang rasa kesedihan dari pihak orang tua yang tidak setuju dengan hubungan kita, atau karena adanya faktor ekonomi, atau juga karena adanya suatu penyakit yang mengancam jiwa salah satunya.



Yang dimaksud tidak bahagia di sini adalah karena salah satu pasangan atau malah keduanya berjalan tanpa ada kesepakatan bersama. Atau bisa juga karena salah satunya adalah orang yang banyak menuntut dan selalu menyalahkan pasangannya. Nah dari sini terasa banget deh rasa tidak enaknya menjalani hubungan yang kurang sehat ini.

Banyak Mengalah daripada Berantem



Jika kamu berada di posisi banyak mengalah saat ketegangan terjadi dan memilih untuk menghindari konflik yang lebih serius, artinya kamu orang yang dewasa sedangkan pasangan kamu masih kekanak-kanakan.



Saya paham dengan kondisi seperti ini, terkadang diam lebih baik daripada harus bertegang urat dengan pasangan kita. Sebab energi yang kita pakai saat berantem juga sangat banyak, namun tidak akan membuat masalah menjadi selesai apabila diteruskan. Berantem akan sangat memperpanjang masalah dan menjadi sulit.



Ya sudah, mengalah saja daripada rame tidak karuan, yang penting masalah yang ada masih bisa dimaklumi dan masih bisa ditolerir. Begitu kan? Di posisi seperti ini kita tuh kayak karang di lautan yang tidak berhenti dihempas oleh ombak yang terus-menerus menerjang tanpa henti. Diam membatu dan berusaha tuli serta mengeraskan hati agar lebih kuat.



Sehat-sehat buat kalian semua yang hidup dalam hubungan yang tidak sehat, tetapi terus berusaha memperbaiki dan bertahan, dengan harapan siapa tahu di masa depan dia bisa berubah dan ada kebahagiaan yang menjelang.

Tidak Ada Benarnya dan Merasa Disalahkan Terus-terusan



Kadang kita sudah melakukan semua kemauannya tetapi masih selalu disalahkan, ini salah dan itu salah, begini salah begitu pun juga salah. Pokoknya semua tidak ada benarnya di matanya. Lelah, capek, stres, sumpah capek ya Allah.



Semua tindakan dan pengorbanan kita terasa sia-sia dan tidak pernah membuatnya senang dan puas, selalu ada yang kurang. Entahlah apa yang dia cari dari caranya memperlakukan kita seperti itu. Mungkinkah dia merasa senang dengan menyiksa kita dengan kata-kata pedasnya dan selalu merasa benar lalu menyalahkan kita ketika semua tidak terasa baik-baik saja.

Sering Putus Nyambung Kayak Sinyal WiFi



Paling sering mengalami putus nyambung dan kejadian ini sangat intens? Bisa dikatakan hal ini adalah ciri khas dari hubungan yang kurang sehat, dan polanya ya gitu-gitu saja. Hari ini berantem hebat, lalu marahan terus minta putus, lalu beberapa hari kemudian ngajak balikan.



Dan semuanya dimulai dari awal lagi, manis lagi, diberi harapan lagi, minta maaf lagi. Tapi di balik permintaan maaf itu, beberapa hari kemudian menyalahkan kita dengan pertikaian yang terjadi, lalu berantem lagi dan putus lagi. Gitu saja terus sampai lebaran monyet.



Sudah tidak heran lagi sih, dan yang mengalami hal seperti ini juga sangat banyak, jadi bukan hanya kamu saja yang mengalami. Karena semua kejadian ini memang dipengaruhi watak dari seseorang yang egois dan ingin menang sendiri. Semau dia dan semua harus dituruti olehnya.

Kita Kehilangan Diri Kita Sendiri



Kita yang dulu periang dan bahagia, setelah bertemu dengan pasangan seperti itu menjadi lebih tertutup dan sering sedih. Ini adalah gejala yang sering dialami oleh orang yang sedang menjalani hubungan yang tidak sehat.



Hubungan dengan orang yang tidak tepat akan berdampak besar pada kepribadian kita, menjadikan kejiwaan kita setengah gila dan sulit merasakan bahagia semenjak bertemu dengan orang yang memiliki pikiran toxic.

Takut Putus Meski Batin Tersiksa



Inilah anehnya ketika masuk pada hubungan yang terasa tidak sehat dan toxic. Entah kenapa kita menjadi takut kehilangannya meskipun kita tersiksa menjalani hubungan yang terasa menyesakkan dada. Seolah kita terkena pelet dan ingin selalu dekat dengannya, padahal itu semua tidak ada hubungannya dengan dunia klenik atau metafisika.



Kita merasa dia adalah orang yang selalu menemani kita, dan hubungan toxic ini kita anggap sebagai cobaan yang harus dilalui. Inilah yang ada di pikiran orang yang sedang berada dalam hubungan tidak sehat.



Ketergantungan ini juga merupakan akibat dari pengekangan yang dilakukan oleh pasangan kita, sehingga kita tidak memiliki teman dan pasangan kita pun menjadi satu-satunya teman kita di kehidupan ini. Apabila ini terjadi maka kita akan sangat takut kehilangannya. Sebenarnya kita itu takut kesepian jika ditinggalkan sendirian.



Padahal ini adalah manipulasi yang dilakukan pasangan sedari awal, saat kita tidak diperbolehkan berhubungan dengan orang lain yang mengakibatkan hubungan sosial kita menjadi terputus.



Alasan lainnya adalah karena kita sudah terlanjur lama menjalani hubungan itu sehingga kita merasa sayang dan ketergantungan dengannya. Apalagi jika sudah pernah enak-enak dengannya. Wah, semakin kecanduan kita dengan aksi liarnya saat berhubungan, dan semakin sulit saja untuk putus darinya.

Pasangan adalah Iblis Sekaligus Malaikat bagi Kita



Dua sifat dalam satu tubuh. Adakalanya dia membuat kita gila, adakalanya dia menjadi obat dari kegilaan yang ditimbulkan olehnya sendiri. Semuanya sudah dalam satu paket yang lengkap. Saat dia marah-marah, kita terasa menjadi tersangka, namun kita berusaha meyakinkan bahwa itu bukan salah kita. Tapi dia tidak mendengarkan dan terus menyalahkan kita sampai kita terpojok dan akhirnya mendiamkan kita.



Tapi sialnya saat dia mendiamkan kita, malah kita yang merasa sedih dan tidak tahan dengan sikapnya. Dan akhirnya kita memohon maaf agar dia kembali mencintai kita seperti sedia kala, karena kehadirannya serta kebahagiaannya adalah kebahagiaan kita juga.



Kita tidak bisa lepas darinya meskipun dia telah jahat kepada kita, namun di satu sisi kehadirannya mampu membuat kita bahagia. Dan di sinilah peran pasangan kita — di satu sisi dia bagaikan malaikat dan di sisi lain dia bagaikan iblis.



Lalu Apa yang Harus Dilakukan jika Menemui Hubungan yang Tidak Sehat dan Kenapa Sulit Putus?



Kenapa sih kita sulit putus ketika menghadapi hubungan yang jelas-jelas merugikan kita? Mengambil keputusan putus dengan pasangan kita yang telah lama menemani kita bukanlah perkara mudah walaupun kita mampu melakukannya.



Ada keterikatan emosional yang melekat, pola kebiasaan yang masih mengikat, serta ketergantungan ekonomi yang kuat — itulah alasan yang sulit kita putuskan, meskipun secara logika harus diputuskan.



Perasaan lebih menguasai daripada otak. Nanti kalau sudah putus kita sendirian, nanti kalau sudah putus dia tidak akan pernah lagi mengajakku jalan dan bercanda, nanti kalau sudah putus tidak ada lagi yang mengajakku teleponan hingga tertidur, nanti kalau putus darinya tidak ada lagi yang memberiku uang jajan. Semua itu mengakibatkan kita enggan beranjak pergi dari hubungan toxic ini.



Tapi coba tanyakan kepada dirimu sendiri:



  • Mau sampai kapan kamu seperti ini?

  • Mau sampai kapan kamu terus-terusan terluka?

  • Mau sampai kapan kamu terus-terusan ditindas dan diperbudak olehnya?

  • Apakah kamu tidak peduli dengan kesehatan mentalmu?



Jawablah pertanyaan ini sendiri, nanti kamu akan tahu apakah kamu harus bertahan atau pergi mencari kebahagiaanmu sendiri. Selama kamu tidak mencintai dirimu sendiri maka kamu tidak akan menemui kebahagiaan sejati di dalam dirimu.



Kesimpulan

Mencintai adalah hal yang wajar, namun menjadi tidak wajar jika kejiwaan kamu mulai terganggu dengan hubungan toxic tersebut. Memang benar manusia itu bisa berubah, tapi kapan berubahnya, dan apakah berubah selamanya atau hanya sesaat?

Baca juga:

Ciri Cowok yang Hanya Memanfaatkan Wanita, Jangan Sampai Terjebak

Cara Melupakan Mantan Tanpa Pacar Baru dan Tetap Bahagia Sendiri

Kamu juga layak mendapat kebahagiaan dan hubungan yang normal, dicintai dan mencintai, tidak dikekang dan berjalan normal. Karena jika cinta, pasangan kita tidak akan membuat kita menderita, melainkan akan selalu berusaha agar kita bisa bahagia.

Posting Komentar