Kenapa Seseorang Mudah Bosan dalam Hubungan Meski Masih Sayang?
Kenapa Seseorang Mudah Bosan dalam Hubungan Meski Masih Sayang?
Penyebab seseorang bisa merasa bosan dalam menjalani hubungan biasanya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu: rutinitas kencan yang monoton, terlalu mengungkapkan semua jati diri di awal perkenalan, terlalu menggebu di awal, tiap hari dan tiap waktu selalu bersama, tidak ada komunikasi yang mendalam, kurangnya variasi dalam hubungan.
Disclaimer: Saya bukan ahli psikologi, tulisan yang akan kalian baca ini lebih ke arah opini walaupun masih ada kaitannya dalam dunia psikologi. Tulisan ini dibangun dari pengalaman dan pengamatan yang terjadi di lingkungan penulis.
Di artikel ini kita akan membahas lebih dalam mengenai rasa bosan dalam suatu hubungan.
Adalah hal yang wajar jika dalam suatu hubungan terasa bosan, karena jika intensitas hubungan sudah lama, memang akan mengalami penurunan kenikmatan rasa. Ya anggap saja tiap hari kamu makan jagung tanpa ada variasi makanan yang lain, tentu akan ada rasa bosan jika menunya itu-itu saja tiap hari selama bertahun-tahun.
Asal rasa bosan ini tidak sampai mengacaukan hubungan, tidak masalah sih. Karena yang jadi masalah itu ketika rasa bosan yang datang justru membuat kita berpaling ke orang lain atau pihak ketiga sebagai pelarian perasaan.
Nah apa saja penyebab orang merasa bosan dalam menjalani hubungannya, simak baik-baik artikel ini.
Kencan yang Monoton Tiap Waktu
Kalau kamu kencan dengan pasangan kamu, tolong usahakan jangan terlalu monoton tiap kali bertemu. Pilihlah tempat lain untuk bertemu, makan di tempat lain, lalu ganti topik pembicaraan setiap kali bertemu agar ada cerita baru yang membuat suasana menjadi berbeda.
Karena jika kamu melakukan hal yang itu-itu saja maka hubungan akan terasa hambar, dan itu normal sebenarnya. Misalnya nih, asal ketemu pasti selalu di kamar dan selalu saja melakukan hal-hal yang itu-itu saja. Meskipun nikmat, tapi jika dilakukan terus-menerus maka akan sangat membosankan.
Terlalu Terbuka di Awal Perkenalan
Memang benar dalam hubungan butuh kejujuran dan keterbukaan dalam menjalaninya. Namun perlu diingat juga, jika kamu terlalu terbuka di awal-awal perkenalan tanpa ditanya, maka orang cenderung menganggap kamu tidak terlalu menantang lagi. Karena seseorang cenderung menyukai misteri dan hal semacam itu memicu keinginan mereka untuk membongkar siapa dirimu.
baca juga:
Tanda Hubungan Tidak Sehat tapi Sulit Putus, Lalu Maunya Gimana?
Cara Mengatasi Overthinking Karena Pasangan Tanpa Menyiksa Diri Sendiri
Semakin misterius kamu, semakin menantang untuk didekati dan dipecahkan misterinya. Tapi ya jangan sok misterius juga ya, itu berbeda konsep. Untuk itulah kamu boleh jujur siapa dirimu kepada pasangan kamu, tapi sisakan sedikit kemisteriusan di dirimu untuk mereka, agar bisa bermain-main dengan imajinasinya.
Kemisteriusan di dirimu mencegah mereka agar tidak cepat bosan tentang siapa dirimu. Biarkan mereka bertanya-tanya dan memikirkan dirimu. Dengan begitu, dirimu secara tidak langsung akan masuk ke alam pikiran pasanganmu secara intens, dan semakin membuatnya merindukanmu.
Namun jika kamu suka keterbukaan, bahkan di awal kenal sudah membuka semua tentang dirimu, mulai dari gajimu berapa per bulan, orang tuamu punya warisan 1.000 hektar perkebunan sawit, punya mantan banyak, dan terbuka pada hal-hal yang sebenarnya kurang penting — orang akan lebih cepat ilfeel dan bosan mendengar ceritamu meskipun terdengar nyata dan jujur.
Menggebu-gebu di Awal
Suka sih suka, tapi ya jangan terlalu menunjukkan kalau kamu suka. Apalagi aksi kamu PDKT dengan beribu cara agar bisa mendekatinya secara terus-menerus, tidak peduli siang dan malam dipepetin terus. Hal semacam ini bisa membuat kamu tidak dirindukan lagi oleh pasanganmu. Yang ada kamu malah bisa ditinggalkan karena dianggap mengganggu.
Jadi ya dekati pasangan kamu sewajarnya saja agar mereka punya waktu untuk merindukanmu. Sebab orang itu rindu jika kamu tidak ada di sampingnya. Berbeda jika kamu on time berada di dekatnya dan selalu menghubunginya, maka tidak ada lagi jeda di otaknya untuk memikirkan dirimu. Yang ada malah cepat bosan.
Tiap Hari Selalu Bersama
Sekilas terlihat romantis jika ke mana-mana selalu bersama, namun itu bisa jadi penyebab awal kehilangan minat dan merasa bosan terhadap pasangan masing-masing. Kebersamaan yang terlalu intens akan membuat kamu dan dia merasa tidak ada lagi makna yang spesial dari sebuah kehadiran pasangan.
Seperti yang saya sebutkan di atas, ketidakhadiran seorang pasangan akan membuat ruang rindu di lubuk hatinya. Dan mereka akan menebak-nebak, kamu lagi apa, dengan siapa, apakah masih setia atau dengan yang lain. Dengan memberi jeda waktu dan kesendirian, maka kamu sedang memberi alasan agar pasangan kamu merindukanmu serta menghindari rasa bosan karena terus-menerus bertemu.
Tidak Ada Komunikasi yang Mendalam
Komunikasi memang menjadi syarat mutlak dari arah dan kelanggengan sebuah hubungan. Namun di sini perlu diketahui juga bahwa kualitas komunikasi merupakan hal yang tidak kalah penting dibanding kuantitas komunikasi itu sendiri.
Contoh komunikasi yang membosankan yang sering terjadi pada pasangan: kamu sudah makan?, kamu lagi apa?, kamu udah mandi?, minum obat ya biar cepat sembuh? Dan masih banyak lagi contoh komunikasi yang membosankan yang saya yakin kalian juga sering memakai kalimat basa-basi seperti itu kepada pasangan kalian.
Sebenarnya banyak yang sadar jika kalimat seperti itu sangat membosankan, namun mengingat mencari bahan obrolan itu susah, jadinya kalimat basa-basi tersebut masih sering digunakan bahkan hingga sekarang. Biasanya kalimat tersebut dipakai untuk basa-basi membuka obrolan yang lain sih, tapi jika obrolannya juga boring, ya ujung-ujungnya kamu masuk kategori pasangan yang membosankan juga.
Akan lebih baik mengobrol dengan isi komunikasi yang mendalam mengenai isi hati dan harapan. Ini lebih bisa menyentuh hati dibanding ucapan basa-basi yang membosankan. Biarkan pasangan kamu berbicara dengan cara memancing pertanyaan yang membuatnya terus berbicara mengenai dirinya sendiri, karena umumnya manusia cenderung suka membicarakan dirinya sendiri.
Kurangnya Variasi dalam Hubungan
Variasi adalah warna dari hubungan kamu. Dengan memberi variasi maka kehidupan asmara menjadi menarik dan tidak membosankan. Tapi apa dulu nih variasi dalam hubungan?
Singkatnya, variasi dalam hubungan itu adalah sebuah tindakan, bahasa, atau kebiasaan yang berbeda dari yang sebelumnya.
Kalian bisa pergi ke suatu tempat yang belum pernah dikunjungi, melakukan hobi yang berbeda dari sebelumnya, tiba-tiba ngajak kencan di waktu yang tidak biasanya, lalu memberi kejutan mendadak. Semua itu adalah variasi hubungan untuk memecah suasana yang gitu-gitu saja.
Ya intinya sih melakukan sesuatu di luar dari kebiasaan lama, bisa apa saja tergantung gimana kreativitas kalian dalam melakukannya. Yang penting jangan melakukan sesuatu yang sama secara terus-menerus kepada pasangan, karena hal semacam itu akan membuat rasa bosan dan tidak ada tantangan yang berarti.
Kelelahan dalam Menjalani Kehidupan
Kadang seseorang bosan dengan kehidupan asmaranya bukan berarti dia bosan dengan pasangannya, melainkan hubungan yang terjalin terkena imbas dari masalah lain yang bukan berasal dari hubungan asmara itu sendiri.
Misalnya tertekan karena masalah keluarga, tertekan karena masalah ekonomi, tertekan karena pekerjaan, yang kesemuanya itu menimbulkan rasa lelah secara mental maupun psikis seseorang. Jika itu terjadi, biasanya mood untuk menjalin hubungan pun akan turun drastis, karena mereka menganggap ada persoalan lain yang wajib diprioritaskan dibanding masalah asmaranya.
Dopamin Effect yang Menurun
Setiap kita memulai hubungan asmara, di awal-awal kita akan merasa senang dan bahagia. Karena sebenarnya perasaan cinta yang kita kenal selama ini adalah hasil dari kerja salah satu hormon yaitu dopamin atau hormon kebahagiaan. Dengan mekanisme kerja dopamin inilah maka akan membuat kita bahagia dan termotivasi jika hormon tersebut sedang bekerja di otak kita.
Namun seiring waktu, hormon dopamin ini akan terus menagih sesuatu untuk merasakan lonjakan kebahagiaan lebih dan lebih. Alhasil dalam menjalin hubungan kita akan melakukan hal yang lebih dan lebih.
Ini akibat dopamin memberi stimulasi ke otak untuk bergairah jika bertemu dengan sesuatu yang tidak pasti, dan memberi semangat ke otak untuk mendapatkan hal-hal random tersebut. Dari yang biasanya mendengar suaranya saja kita sudah senang, lalu otak menginginkan lebih dengan ingin chat bareng, jalan bareng, makan bareng, lalu melakukan hal-hal yang menyenangkan bareng — kalian sudah tahu lah ke mana arahnya.
Dan jika kalian sudah mendapatkan semuanya dan tidak ada hal baru yang membuat kalian penasaran, maka hormon dopamin ini akan turun intensitasnya dan mengakibatkan rasa hambar dan biasa saja pada rutinitas yang sering kalian lakukan. Dan yang sebenarnya terjadi adalah kalian kembali ke mode normal.
Yang awalnya bahagia saat jalan bareng sekarang mulai biasa saja. Yang awalnya pelukan bareng sangat menyenangkan sekarang biasa saja. Itu terjadi karena semua itu sudah kita dapatkan sehingga menyebabkan penurunan hormon dopamin karena kita kehilangan target yang membuat kita penasaran untuk merasakannya.
baca juga:
Suami Jadi Dingin Setelah Menikah, Apakah Masih Cinta?
Ciri Cowok yang Hanya Memanfaatkan Wanita, Jangan Sampai Terjebak
Perlu trigger baru untuk menstimulasi agar dopamin kembali meningkat. Dan trigger itu adalah hal random yang belum pernah dirasakan. Dopamin ini kayak memberi kita semangat untuk mencari kebahagiaan serta motivasi untuk mendapatkan sesuatu.
Dan seperti itulah dopamin, salah satu hormon yang membuat kita kecanduan dan adanya rasa bosan juga. Garis besarnya tuh, semakin kita diberi target yang tidak pasti, kita akan semakin bergairah dan penasaran untuk mendapatkannya.
Kesimpulan
Seseorang yang bosan dengan hubungannya bukan berarti mereka ingin mengakhiri hubungan yang sudah susah payah dia bangun. Rasa bosan itu, kalau kita mau mengakui, itu lebih kayak otak kita kembali ke kondisi normal saat sebelum merasakan cinta atau tergila-gila kepada seseorang.
Terus terang, seseorang yang memasuki tahap jatuh cinta atau sayang kepada seseorang itu sebenarnya sudah berpikir tidak rasional, dan rasa bosan adalah proses di mana otaknya kembali waras.
Gimana tidak rasional coba, kalau dipikir-pikir, kenapa juga kita harus mati-matian mengejar seseorang yang belum tentu peduli kepada kita? Untuk apa juga kita harus berkorban kepada seseorang yang mungkin tidak akan mengganti kerugian kita saat mengejarnya? Dan kita sebenarnya hanya disuguhi ilusi kebahagiaan.
Jika kita mendapatkan cintanya atau perhatiannya maka kita akan bahagia, padahal itu tidak menunjang kebutuhan hidup kita sama sekali. Bahkan cenderung membuat kita rugi waktu, tenaga, dan bahkan materi.
Dan saat otak kita sadar dari ilusi dopamin ini, maka otak kita akan kembali ke mode normal yang ditunjukkan dengan rasa bosan.
So, rasa bosan itu adalah kembalinya akal sehat kita, dan rasa cinta yang menggebu-gebu kemarin pada dasarnya adalah kita masuk dalam mode tidak rasional, atau gila.

Posting Komentar