Cara Membangun Kepercayaan Setelah Diselingkuhi dan Mengatasi Trauma Pengkhianatan
Cara Membangun Kepercayaan Setelah Diselingkuhi dan Mengatasi Trauma Pengkhianatan
Diselingkuhi sering kali meninggalkan trauma yang banyak orang rasakan, kata maaf saja tidak akan bisa menghapus luka yang terlanjur menggores hati yang sangat dalam. Saya mengerti keadaan ini dan anda juga pasti punya pengalaman yang tidak mengenakkan dengan perselingkuhan ini.
Ketika kita menjalani hari yang bahagia bersama pasangan dan tiba tiba ada orang ke tiga masuk ke hubungan kita. Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong. Ingin sembuh dari luka batin seperti ini terasa sulit, dunia bagaikan runtuh seketika , siang malam bawaannya melamun terus, makan jadi tidak nafsu dan tidur pun tidak pernah nyenyak lagi.
Ada dua jenis luka dalam hidup manusia. Luka pertama adalah yang terlihat, memar, patah, sesuatu yang bisa kamu tunjuk dan bilang, "di sini sakitnya." Luka kedua adalah yang tidak terlihat tapi jauh lebih lama sembuhnya, luka yang ditinggalkan oleh seseorang yang paling kamu percaya ketika ia memilih untuk mengkhianatimu.
Diselingkuhi itu bukan sekadar soal pasangan yang pergi ke orang lain. Yang paling menghancurkan bukan kejadiannya itu sendiri, tapi apa yang ia lakukan kepada caramu melihat dunia sesudahnya. Tiba-tiba kamu tidak bisa lagi membaca situasi dengan yakin. Orang yang kamu pikir kamu kenal dalam-dalam ternyata menyimpan wajah lain. Dan pertanyaan yang paling menyiksa bukan "kenapa dia melakukannya?" tapi "apa yang salah dengan cara aku melihat semua ini?"
Dari titik itu, membangun kepercayaan kembali, baik kepada orang lain maupun kepada dirimu sendiri, adalah perjalanan yang tidak bisa diringkas menjadi lima langkah mudah. Siapapun yang menjanjikan itu kepadamu sedang tidak jujur.
Tapi perjalanan itu bisa ditempuh. Dan di artikel ini saya ingin berbicara tentang caranya, bukan dari teori yang saya baca, tapi dari apa yang saya amati langsung dari orang-orang yang pernah hancur karena pengkhianatan dan berhasil menemukan cara untuk kembali utuh.
Disclaimer: tidak semua pengalaman yang saya tulis di artikel ini sama dengan pengalaman orang lain di luar sana. Jadi jangan di jadikan rujukan utama dalam pengambilan keputusan, melainkan pertimbangan yang matang berdasarkan keadaan kamu saat ini.
baca juga:
Kenapa Pria Berselingkuh Meski Sayang? Ini Jawaban yang Banyak Dicari
Alasan Wanita Selingkuh Tapi Tetap Bertahan, Bukan Selalu Karena Sudah Tidak Cinta
Pertama, Kenali Dulu Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Dirimu
Banyak orang yang baru saja diselingkuhi langsung berusaha "move on" atau "kembali normal" tanpa benar-benar berhenti untuk memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.
Ini kesalahan yang sangat umum dan sangat dapat dimengerti. Karena berdiam diri dengan rasa sakit itu tidak nyaman. Jauh lebih mudah untuk menyibukkan diri, mengalihkan pikiran, atau bahkan langsung mencoba menjalani hubungan baru agar tidak harus merasakan kekosongan yang ditinggalkan pengkhianatan itu.
Tapi apa yang tidak diproses tidak akan hilang begitu saja. Ia hanya berpindah, dari permukaan ke lapisan yang lebih dalam, di mana ia terus bekerja tanpa kamu sadari. Muncul sebagai kecurigaan yang tidak beralasan kepada orang berikutnya. Muncul sebagai ketidakmampuan untuk benar-benar terbuka meskipun kamu ingin. Muncul sebagai reaksi yang tidak proporsional terhadap hal-hal kecil yang mengingatkanmu pada apa yang pernah terjadi.
Yang perlu kamu kenali setelah diselingkuhi bukan hanya rasa marah atau rasa sedih, tapi seluruh spektrum yang ada di antara keduanya. Ada rasa malu yang sering muncul tanpa diundang, seolah pengkhianatan itu adalah refleksi dari kekuranganmu. Ada kehilangan identitas karena sebagian dari siapa dirimu sudah terdefinisi oleh hubungan itu. Ada kebingungan yang mendalam tentang apa yang nyata dan apa yang tidak. Dan ada juga, kalau kamu mau jujur, sisa-sisa rasa sayang yang tidak tahu harus diletakkan ke mana karena objeknya sudah berubah menjadi sumber luka.
Semua itu nyata. Semua itu valid. Dan semua itu perlu diakui sebelum bisa diproses.
Trauma Pengkhianatan: Ini Bukan Lebay, Ini Nyata Secara Ilmiah
Saya perlu meluangkan ruang untuk membahas ini karena terlalu banyak orang yang menyepelekan dampak psikologis dari diselingkuhi, termasuk diri mereka sendiri.
Apa yang dialami banyak orang setelah diselingkuhi menunjukkan gejala yang sangat mirip dengan PTSD, Post Traumatic Stress Disorder. Kilas balik yang datang tanpa diundang. Respons fisik seperti jantung berdegup kencang ketika bertemu sesuatu yang mengingatkanmu pada kejadian itu. Sulit tidur. Sulit berkonsentrasi. Mood yang naik turun tanpa bisa diprediksi. Menghindari situasi-situasi tertentu karena terlalu berat untuk dihadapi.
Ini bukan drama. Ini bukan kamu yang terlalu sensitif. Ini adalah respons sistem saraf yang sangat normal terhadap kejadian yang secara psikologis sangat mengancam, karena pengkhianatan oleh orang yang paling dekat adalah salah satu bentuk ancaman yang paling dalam yang bisa dialami manusia. Ia tidak hanya menyakiti perasaan, ia mengguncang fondasi kepercayaan yang menjadi dasar dari cara kamu berfungsi dalam hubungan apapun.
Memahami bahwa apa yang kamu alami punya nama dan punya penjelasan yang sah itu penting. Bukan untuk menjadikanmu merasa lebih lemah, tapi justru sebaliknya, untuk membantumu berhenti menyalahkan diri sendiri atas sesuatu yang sebenarnya bukan salahmu.
Cara Membangun Kepercayaan Setelah Diselingkuhi yang Tidak Instan Tapi Nyata
Mulai dengan Membangun Kembali Kepercayaan pada Dirimu Sendiri
Ini selalu menjadi langkah yang pertama, dan hampir selalu menjadi langkah yang paling dilewatkan orang.
Ketika diselingkuhi, yang paling sering hancur bukan hanya kepercayaan kepada pasangan, tapi kepercayaan kepada kemampuanmu sendiri untuk menilai orang dan situasi. Kamu bertanya-tanya, "kenapa aku tidak melihatnya?" atau "apakah selama ini aku memang mudah dibohongi?" Dan dari pertanyaan itu lahirlah keraguan terhadap penilaianmu sendiri yang bisa sangat melemahkan.
Membangun kembali kepercayaan pada dirimu sendiri dimulai dari satu pengakuan sederhana tapi tidak mudah: kamu tidak gagal karena tidak melihat tanda-tandanya. Kamu mempercayai seseorang karena memang itulah yang dilakukan orang dalam hubungan yang sehat. Kepercayaan bukan kebodohan. Dan ketika kepercayaan itu dikhianati, kesalahannya ada pada yang mengkhianati, bukan pada yang mempercayai.
Dari situ, pelan-pelan mulailah mempercayai penilaianmu kembali. Bukan dengan langsung terjun ke hubungan baru dan memaksa diri untuk percaya, tapi dimulai dari hal-hal kecil. Percaya pada intuisimu ketika memilih orang yang mau kamu buka kepadanya. Percaya pada perasaanmu ketika sesuatu terasa tidak nyaman. Percaya bahwa kamu cukup mampu untuk membaca situasi, bahkan jika pernah ada satu situasi yang luput.
Izinkan Dirimu untuk Berduka dengan Benar
Ini yang paling banyak dihindari karena paling menyakitkan untuk dijalani.
Kehilangan hubungan karena perselingkuhan bukan hanya kehilangan seseorang. Kamu juga kehilangan versi dari hubungan itu yang kamu pikir nyata. Kehilangan rencana-rencana yang sudah dibuat bersama. Kehilangan rasa aman yang pernah ada. Kehilangan versi dirimu yang ada di dalam hubungan itu.
Semua kehilangan itu butuh diratapi dengan benar. Dan meratapi bukan berarti terus-menerus menangis atau terus-terusan membicarakannya kepada siapapun yang mau mendengar, itu bisa menjadi cara lain untuk tetap terjebak. Meratapi dengan benar berarti memberi dirimu izin untuk merasakan apa yang perlu dirasakan, pada waktu yang memang waktunya, tanpa terburu-buru menuju "baik-baik saja."
Saya pernah melihat seorang teman yang setelah diselingkuhi langsung bergerak sangat cepat, keluar setiap malam, hubungan baru dalam hitungan minggu, tampak sangat baik-baik saja dari luar. Dua tahun kemudian ia mengalami keruntuhan emosional yang jauh lebih dalam karena semua yang tidak pernah ia izinkan dirinya rasakan tiba-tiba tidak bisa ditahan lagi.
Tidak ada jalan pintas melewati duka. Hanya ada jalan melewatinya, satu hari dalam satu waktu.
Tentukan dengan Jelas Apa yang Kamu Mau Sebelum Membuka Diri Lagi
Setelah pengkhianatan, banyak orang yang terjebak dalam dua ekstrem. Ekstrem pertama adalah menutup diri sepenuhnya dari kemungkinan hubungan baru karena tidak mau merasakan sakit yang sama lagi. Ekstrem kedua adalah terlalu cepat membuka diri karena tidak tahan dengan kesendirian.
Keduanya lahir dari tempat yang sama, ketakutan. Dan keduanya tidak membawa ke tempat yang sehat.
Yang perlu dilakukan sebelum membuka diri lagi bukan sekadar "menunggu sampai siap", karena siap itu tidak pernah datang kalau tidak secara aktif dipersiapkan. Yang perlu dilakukan adalah memeriksa dengan jujur: apa yang kamu butuhkan dalam sebuah hubungan? Batasan seperti apa yang sekarang sudah lebih jelas bagimu? Tanda-tanda peringatan apa yang dulu kamu abaikan yang sekarang perlu kamu perhatikan? Dan yang paling penting, apakah kamu sedang membuka diri karena memang sudah siap, atau karena kamu sedang melarikan diri dari kesepian?
Kejujuran dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk membuatmu semakin takut membuka diri. Justru sebaliknya, ia memberimu fondasi yang lebih kuat ketika kamu akhirnya memutuskan untuk melakukannya.
Bangun Kepercayaan Secara Bertahap, Bukan Sekaligus
Ini salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan orang dalam hubungan baru setelah pengkhianatan, mereka mencoba memutuskan sejak awal apakah orang baru ini bisa dipercaya atau tidak, dan jika tidak bisa langsung memastikannya mereka merasa tidak aman.
Kepercayaan tidak bekerja seperti itu. Kepercayaan tidak bisa diverifikasi di muka, tidak bisa dijamin dengan janji apapun, dan tidak bisa dibangun dalam semalam.
Kepercayaan dibangun dari akumulasi momen kecil yang konsisten sepanjang waktu. Apakah dia melakukan apa yang dikatakannya? Apakah ketika ada hal yang tidak nyaman, ia mau membicarakannya secara terbuka? Apakah responnya ketika kamu menunjukkan kerentanan itu aman untuk dirimu?
Beri dirimu izin untuk membangun kepercayaan secara bertahap, sedikit demi sedikit, seiring waktu, berdasarkan bukti yang terkumpul, bukan berdasarkan keyakinan buta atau keputusasaan yang menyamar sebagai kepercayaan.
Jangan Hukum Orang Baru karena Kesalahan Orang Lama
Ini poin yang paling mudah diucapkan tapi paling susah dijalankan, terutama di awal proses pemulihan.
Ketika trauma pengkhianatan belum selesai diproses, otak kita cenderung melihat potensi ancaman di mana-mana. Pesan yang tidak segera dibalas langsung terasa seperti sinyal bahaya. Teman lawan jenis yang disebut dalam percakapan langsung memicu kecemasan. Pasangan yang perlu waktu sendiri langsung dibaca sebagai tanda menjauh.
Semua reaksi itu bisa dimengerti. Tapi kalau tidak dikelola, ia akan menjadi racun bagi hubungan baru yang sebenarnya tidak punya dosa apapun dalam ceritamu yang lama.
Cara terbaik untuk tidak menghukum orang baru atas kesalahan orang lama adalah dengan jujur kepadanya tentang di mana kamu berada secara emosional, bukan sebagai pengakuan kelemahan, tapi sebagai informasi yang ia butuhkan untuk bisa hadir dengan cara yang tepat untukmu. Pasangan yang tepat tidak akan kabur karena mengetahui kamu sedang dalam proses pemulihan. Mereka justru akan menghargai kejujuran itu.
Peran Bantuan Profesional yang Tidak Boleh Diabaikan
Saya ingin membicarakan ini secara langsung karena masih terlalu banyak orang yang meremehkan nilai dari berbicara dengan profesional setelah mengalami pengkhianatan.
Terapi bukan untuk orang yang "gila." Terapi adalah untuk orang yang menghadapi sesuatu yang terlalu berat untuk diproses sendirian, dan trauma pengkhianatan hampir selalu masuk dalam kategori itu.
Seorang terapis atau konselor yang baik tidak akan memberitahumu apa yang harus kamu rasakan atau keputusan apa yang harus kamu ambil. Mereka membantu kamu melihat pola-pola yang mungkin tidak bisa kamu lihat sendiri ketika kamu masih berada di tengah-tengah situasinya. Mereka memberikan ruang yang aman untuk mengekspresikan hal-hal yang mungkin terlalu berat atau terlalu kompleks untuk diceritakan kepada orang-orang terdekat.
Dan dalam konteks trauma pengkhianatan, kehadiran panduan profesional sering kali menjadi perbedaan antara seseorang yang akhirnya pulih sepenuhnya dan seseorang yang terus membawa lukanya tidak diakui selama bertahun-tahun ke depan.
Kesimpulan
Cara membangun kepercayaan setelah diselingkuhi dan mengatasi trauma pengkhianatan tidak punya garis finish yang jelas dan bisa ditunjuk kapan persisnya selesai. Ia adalah proses yang bergerak maju tidak selalu lurus — ada hari-hari yang terasa sangat baik, ada hari-hari yang terasa seperti kembali ke titik awal, dan ada hari-hari di mana kamu hanya bisa berfungsi satu jam dalam satu waktu.
baca juga:
Apakah Hubungan Bisa Normal Setelah Selingkuh? Ini Jawaban dan Faktanya
Tanda Pasangan Menyembunyikan Sesuatu, Apakah Hubungan Anda Mengalaminya?
Semua itu bagian dari prosesnya.
Yang penting untuk diingat adalah ini: diselingkuhi tidak mendefinisikan siapa dirimu. Ia adalah sesuatu yang terjadi kepadamu, bukan sesuatu yang mencerminkan nilaimu sebagai manusia. Dan kemampuanmu untuk melewati ini — untuk memproses luka itu, untuk belajar dari apa yang perlu dipelajari, dan untuk akhirnya membuka diri lagi dengan cara yang lebih bijak — itu adalah bukti dari kekuatan yang mungkin belum pernah kamu sadari ada di dalam dirimu.
Pulih bukan berarti tidak lagi merasakan bekasnya. Pulih berarti luka itu tidak lagi menentukan ke mana langkahmu pergi.

Posting Komentar